Kita makan setiap hari. Bahkan sering kali, kita makan tanpa benar-benar memikirkan apa yang sedang kita makan.

Pagi hari, mungkin secangkir minuman hangat dan sarapan sederhana. Siang, sesuatu yang praktis di tengah kesibukan. Malam, makanan yang dipesan melalui aplikasi karena rasanya terlalu melelahkan untuk memasak.

Kita memilih makanan berdasarkan banyak hal: rasanya enak, harganya sesuai, tampilannya menarik, atau sedang viral.

Tetapi bagi seorang Muslim, ada satu pertanyaan lain yang seharusnya ikut hadir di meja makan:

“Apakah makanan ini halal?”

Sekilas, pertanyaan itu terdengar sederhana. Namun, halal sebenarnya membawa makna yang jauh lebih luas daripada sekadar memastikan tidak ada daging babi atau lemak babi di dalam makanan.

Sebab dalam Islam, makanan bukan hanya sesuatu yang membuat perut kenyang.

Ada nilai, proses, dan kesadaran yang ikut menyertainya.

Halal bukan sekadar tentang apa yang ada di piring

Kita mungkin terbiasa memahami halal dan haram sebagai dua hal yang sederhana: sesuatu boleh dimakan atau tidak boleh dimakan.

Padahal, konsep makanan dalam Islam juga mengenal istilah halalan thayyiban yaitu sesuatu yang halal sekaligus baik.

Al-Qur’an mengingatkan manusia untuk memakan makanan yang halal dan baik. Pesan ini terasa sederhana, tetapi sebenarnya mengajak kita melihat makanan dengan cara yang lebih utuh.

Bukan hanya bertanya, “Bolehkah saya memakannya?”

Tetapi juga:

“Apakah makanan ini baik?”

Pertanyaan tersebut membuat aktivitas makan menjadi sedikit berbeda.

Kita mulai memperhatikan dari mana bahan makanan berasal, bagaimana prosesnya, apa yang digunakan dalam pembuatannya, dan apakah semuanya sesuai dengan prinsip yang kita yakini.

Makan akhirnya bukan sekadar aktivitas yang dilakukan karena lapar.

Ia menjadi bagian kecil dari bagaimana kita menjalani kehidupan.

Karena apa yang kita makan menjadi bagian dari diri kita

Makanan masuk ke tubuh, menjadi energi, dan menopang kita untuk menjalani hari.

Karena itu, wajar jika Islam memberikan perhatian terhadap apa yang dikonsumsi oleh seorang Muslim.

Bukan karena makanan harus selalu dipandang dengan rasa takut atau curiga. Justru sebaliknya, perhatian terhadap halal mengajarkan sebuah bentuk kesadaran.

Kita hidup di dunia yang membuat makanan semakin mudah diperoleh.

Tinggal membuka aplikasi, memilih menu, lalu menunggu beberapa menit.

Di supermarket, satu produk bisa memiliki daftar bahan yang panjang. Di restoran, satu hidangan bisa dibuat dari berbagai macam saus, kaldu, bumbu, dan bahan tambahan yang tidak selalu terlihat dari tampilannya.

Semakin kompleks makanan yang kita konsumsi, semakin penting pula untuk memahami apa yang sebenarnya ada di baliknya.

Karena sesuatu yang terlihat sederhana di atas piring belum tentu sesederhana proses pembuatannya.

Halal Membuat Kita Lebih Teliti

Ada sesuatu yang menarik dari kebiasaan mencari tahu tentang makanan.

Kita menjadi lebih kritis.

Ketika melihat sebuah produk, kita belajar membaca label. Ketika makan di restoran, kita mulai memperhatikan bahan yang digunakan. Ketika bepergian ke negara lain, kita mungkin bertanya apakah daging yang digunakan halal, apakah ada alkohol dalam sausnya, atau apakah kaldu dibuat dari bahan yang diperbolehkan.

Bukan berarti setiap makanan harus membuat kita penuh pertanyaan.

Tetapi ada kalanya kita memang perlu berhenti sejenak dan mencari tahu.

Sebab tidak semua makanan yang tidak mengandung pork otomatis halal.

Begitu pula makanan yang terlihat vegetarian belum tentu selalu memenuhi seluruh kriteria yang dicari seorang Muslim. Ada bahan lain dan proses tertentu yang tetap perlu diperhatikan.

Di sinilah pemahaman tentang halal menjadi lebih dari sekadar menghafal daftar makanan yang boleh dan tidak boleh.

Ia menjadi kebiasaan untuk lebih sadar terhadap pilihan kita.

Ada ketenangan ketika kita tahu apa yang kita konsumsi

Mungkin ini adalah bagian yang paling personal dari hubungan seorang Muslim dengan makanan.

Ada rasa tenang ketika kita mengetahui bahwa makanan yang kita konsumsi sesuai dengan keyakinan.

Bukan karena makanan halal menjanjikan bahwa hidup akan selalu baik-baik saja. Bukan pula karena semua persoalan hidup akan selesai hanya dengan memilih makanan yang halal.

Tetapi karena kita tahu bahwa dalam hal kecil yang kita lakukan setiap hari, kita sedang berusaha menjalankan apa yang diyakini.

Dan mungkin, justru di situlah maknanya.

Keimanan tidak selalu hadir dalam bentuk sesuatu yang besar.

Kadang ia hadir dalam keputusan yang sangat sederhana: memilih makanan yang halal ketika ada pilihan lain, membaca komposisi ketika kita ragu, atau memilih untuk tidak mengonsumsi sesuatu ketika statusnya tidak jelas.

Tidak ada yang melihat keputusan kecil itu.

Tetapi kita tahu mengapa kita melakukannya.

Halal juga mengajak kita memperhatikan kualitas

Halal dan sehat memang bukan dua istilah yang sepenuhnya sama.

Sesuatu bisa saja halal, tetapi belum tentu menjadi pilihan yang paling baik jika dikonsumsi berlebihan.

Namun, konsep halalan thayyiban mengingatkan bahwa makanan tidak cukup hanya dilihat dari satu sisi.

Kita juga bisa belajar memperhatikan kebersihan, kualitas bahan, cara pengolahan, dan bagaimana makanan tersebut dikonsumsi. Makan dengan baik bukan hanya tentang mencari makanan yang diperbolehkan. Tetapi juga belajar menghargai tubuh yang dititipkan kepada kita.

Memilih makanan dengan lebih sadar. Tidak berlebihan. Tidak hanya mengejar rasa. Dan memahami bahwa apa yang kita konsumsi adalah bagian dari cara kita merawat diri.

Lalu, bagaimana ketika kita tidak tahu?

Pertanyaan ini menjadi semakin relevan ketika kita berada di luar negeri atau berada di tempat yang tidak menyediakan banyak pilihan makanan halal.

Tidak semua restoran memiliki sertifikasi halal. Tidak semua produk memiliki label yang mudah dipahami. Dan tidak semua orang bisa mengetahui seluruh bahan yang digunakan dalam sebuah makanan.

Dalam situasi seperti ini, pemahaman tentang halal justru menjadi penting.

Kita belajar bertanya ketika memang perlu.

Belajar membaca informasi.

Belajar mencari kepastian.

Dan ketika sesuatu tidak dapat dipastikan, kita juga belajar bahwa tidak semua hal harus dipaksakan untuk dicoba.

Ada pilihan lain. Ada makanan lain. Ada kesempatan lain.

Sikap berhati-hati bukan berarti harus menjalani hidup dengan penuh kecemasan. Ia bisa menjadi bentuk penghormatan terhadap keyakinan yang kita pilih untuk jalani.

Artikel ini disusun oleh Tim Redaksi Okatoverse-Foodberdasarkan riset dan referensi terpercaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *